DITULIS OLEH

Menjadi Pendengar Yang Baik Dengan Metode Active Listening

Bagikan artikel ini

Menjadi pendengar yang baik, bukanlah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang. Akan tetapi, menjadi pendengar yang baik sudah sepantasnya dilakukan oleh setiap orang. Mendengarkan memiliki peran yang sama pentingnya dengan berbicara dalam suatu komunikasi. Komunikasi yang efektif tentunya hanya akan terjadi jika seseorang memiliki keterampilan mengutarakan maupun menerima pesan dengan baik. Oleh karena itu, selain meningkatkan kemampuan berbicara yang sering di gaung kan akhir-akhir ini, kemampuan menjadi pendengar yang baik pun tidak kalah pentingnya untuk ditingkatkan.

Di dunia yang semakin riuh dengan adanya kebebasan berpendapat, membuat banyak orang lebih senang berbicara demi mengemukakan pendapat mereka. Mereka menginginkan pendapatnya didengarkan dan dapat diterima oleh orang lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Akan tetapi, ketika semua orang naik panggung untuk berbicara, lalu siapa yang akan mendengarkan mereka?

Mendengarkan merupakan suatu seni tersendiri dalam sebuah komunikasi. Namun dewasa ini, mendengarkan tampak seperti sebuah seni yang semakin menghilang dan membosankan karena dunia tidak lagi menganggapnya penting. Mendengarkan bukan hanya perkara fisik, tapi juga melibatkan proses intelektual dan emosional di dalamnya. Oleh karena itu, agar mampu menjadi pendengar yang baik diperlukan metode khusus, salah satunya yakni dengan menggunakan metode active listening.

menjadi pendengar yang baik
Source: Pexels

Apa Itu Active Listening?

Active listening atau mendengarkan secara aktif merupakan sebuah kemampuan untuk fokus kepada apa yang diungkapkan atau tidak diungkapkan oleh pembicara, yang memiliki tujuan untuk memahami secara penuh apa yang sedang dikomunikasikan oleh pembicara baik secara verbal maupun non verbal. Kemampuan ini memastikan diri kita agar terlibat dan mengingat detail pesan yang telah disampaikan.

Mendengarkan secara aktif tidak hanya sekadar mendengar. Hal ini didasari berdasarkan perbedaan antara hearing dengan listening. Hearing didefinisikan sebagai sebuah tindakan fisik dalam mendengarkan suara yang bersifat pasif. Dikatakan pasif, karena suara yang diterima merupakan suara yang pada dasarnya mau tidak mau harus kita dengarkan. Hal ini juga tidak bergantung pada konsentrasi. Layaknya sebuah pepatah yang umum di masyarakat yakni “Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Sedangkan listening didefinisikan sebagai sebuah kegiatan mendengarkan secara aktif dengan memperhatikan setiap kata-kata dan suara yang didengar untuk memahami maknanya dan menginterpretasikannya.

Oleh karena itu, untuk melakukan active listening, kamu membutuhkan rasa ingin tahu, motivasi, empati, tujuan serta usaha. Seorang active listener selalu mencoba menginternalisasi dan memahami apa yang mereka dengar agar terhubung dengan lawan bicaranya, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam komunikasi yang bermakna.

Baca Juga: Trend Self Healing, Apakah Efektif?

perbedaan hearing dengan listening
Source: Pexels

Bagaimana Membedakan Hearing dengan Listening?

Ketika kamu baru memulai mempelajari active listening, tentu kamu masih merasakan kebingungan. Apakah yang kamu lakukan termasuk hearing ataukah listening? Oleh karena itu, Catatan Psikologi akan membantu kamu mengetahui perbedaan antara hearing dengan listening.

  1. Listening merupakan sebuah proses aktif, sedangkan hearing merupakan proses pasif.
  2. Dalam melakukan listening, kamu harus memusatkan perhatianmu terhadap lawan bicaramu, berbeda halnya dengan hearing, yang tidak memerlukan konsentrasi maupun perhatian.
  3. Ketika kamu melakukan listening, kamu membutuhkan rasa empati, rasa ingin tahu, dan motivasi dalam melakukannya, sedangkan ketika kamu melakukan hearing, kamu tidak membutuhkan hal-hal tersebut.
  4. Listening merupakan sebuah keterampilan yang kamu butuh kan ketika kamu ingin menjalin komunikasi yang efektif, sedangkan hearing tidak termasuk jenis keterampilan yang dibutuhkan dalam melakukan komunikasi yang efektif.
  5. Ketika kamu melakukan listening, kamu turut melibatkan fisik, pikiran serta emosi, sedangkan untuk hearing, kamu hanya perlu melibatkan indra pendengaran.
bagaimana cara melakukan active listening
Source: Pexels

Bagaimana Cara Melakukan Active Listening?

Jika kamu ingin menjadi seorang active listener. Tentu ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan. Oleh karena itu, Catatan Psikologi telah merangkum beberapa hal yang perlu kamu lakukan di antaranya adalah:

1. Memberikan Klarifikasi

Mendengarkan kerap kali dikatakan sebuah aktivitas yang pasif. Namun, saat kamu sudah mengetahui perbedaan antara listening dengan hearing. Tentu aktivitas mendengarkan jauh lebih bermakna dari sebelumnya. Ketika kamu melakukan listening, kamu menjadi lebih aktif untuk menangkap dan memahami setiap ucapan dari lawan bicaramu. Hal ini dapat terlihat, ketika kamu memberikan klarifikasi atas informasi yang telah kamu dengarkan. Apabila pernyataan yang kamu lontarkan sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh lawan bicaramu, maka selamat kamu sudah mulai melakukan active listening.

2. Menggunakan Teknik Paraphrashing dan Restatement

Untuk menjadi seorang pendengar yang baik, kamu bisa melakukan dua teknik yakni teknik paraphrasing dan teknik restatement. Teknik paraphrasing dapat kamu lakukan dengan mengulang kembali inti kalimat atau cerita yang disampaikan oleh lawan bicara dengan menggunakan kalimat yang berbeda. Berbeda halnya dengan teknik restatement, yang mengharuskan kamu untuk mengulangi kalimat atau cerita dari lawan bicaramu tanpa mengurangi kata yang telah diucapkan. Ini dilakukan agar tidak terjadi respons yang sentimentil saat kamu memberikan sebuah tanggapan.

Kedua teknik tersebut memiliki tujuan untuk memudahkan kamu memahami apa yang diceritakan, serta meningkatkan kepercayaan yang diberikan lawan bicara kepadamu. Untuk mengetahui penjelasan lebih detail mengenai kedua teknik ini, kamu bisa mampir ke Podcast Catatan Psikologi di bawah ini.

menjadi pendengar yang baik
Menjadi pendengar yang baik dengan active listening

3. Menunggu Hingga Lawan Bicaramu Selesai Berbicara

Ketika berada dalam posisi sebagai pendengar, hal yang paling sulit dilakukan adalah menunggu lawan bicara kita benar-benar menyelesaikan ceritanya. Ketika lawan bicara melakukan jeda, sering kali kita terburu-buru dalam memberikan respons. Padahal dalam sebuah percakapan, jeda yang dilakukan lawan bicara bukanlah sinyal untuk kita mulai memberikan respons.

Untuk menjadi seorang pendengar yang baik, maka yang perlu kamu lakukan yaitu membiarkan lawan bicaramu mengambil jeda di sela-sela cerita mereka. Baik untuk mengambil napas panjang sejenak, atau berpikir tentang kelanjutan cerita mereka. Membiarkan lawan bicaramu menyelesaikan ceritanya, memberikan kamu ruang untuk dapat memahami informasi yang disampaikan secara komplit dan emosi yang tampak saat lawan bicara menyampaikan informasi tersebut.

4. Menggunakan Bahasa Tubuh Yang Positif

Ketika ingin menjadi pendengar yang baik, salah satu hal yang perlu kamu perhatikan adalah bahasa tubuhmu. Sebisa mungkin, kamu harus menunjukkan bahasa tubuh yang positif atau terbuka. Hal ini sebagai wujud ketertarikan atau rasa antusiasmu atas informasi yang disampaikan. Oleh karena itu, jangan melakukan bahasa tubuh yang tertutup dan intimidatif seperti menyilangkan kedua tangan di depan dada atau bertolak pinggang.

Untuk menghindari hal tersebut, maka gunakan bahasa tubuh yang positif seperti tetap menjaga kontak mata dengan lawan bicara, mencondongkan sedikit tubuh kamu ke lawan bicara, dan duduk dengan level yang setara dengan lawan bicara. Namun, kamu juga perlu memperhatikan personal space agar lawan bicaramu tetap merasa nyaman bercerita denganmu.

5. Tetap Fokus

Tetap fokus untuk mendengarkan orang lain, dan hindari distraksi yang ada di sekitarmu, termasuk pikiranmu sendiri. Terkadang hal yang menghambat kamu menjadi pendengar yang baik adalah pikiranmu sendiri, karena terlalu banyak menganalisis, mengevaluasi, atau bahkan memikirkan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pesan yang disampaikan lawan bicaramu.

Membuat dirimu tetap hadir dalam komunikasi yang terjadi memang menjadi tantangan tersendiri, akan tetapi kamu bisa melakukannya dengan membatasi gangguan lainnya. Seperti menyimpan ponsel atau tidak sedang melakukan aktivitas lainnya. Semua hal itu dilakukan agar kamu tetap fokus pada komunikasi yang terjadi saat ini.

Menjadi seorang pendengar yang baik artinya merelakan diri kita mendengarkan untuk memahami, bukan mendengarkan untuk menanggapi. Ketika kamu tidak benar-benar melakukan hal tersebut, maka yang terjadi hanyalah komunikasi sepihak. Hingga akhirnya, masing-masing diri kita mulai mengambil panggung percakapan sendiri dan hanya akan menimbulkan konflik baru dalam suatu hubungan.

Penulis : Muhammad Amin Alimuddin

Referensi

Fuller, K. Psychology Today (2021). The Difference Between Hearing and Listening.

Rusnak, K. Psychology Today (2021). Listening to Understand Instead to Respond.

Ford, K. Psychology Today (2021). Listening Like You Mean It.

Wulan Sari, A. Jurnal EduTech Vol. 2 No. 1 (2016). Pentingnya Keterampilan Mendengar Dalam Menciptakan Komunikasi Yang Efektif.

Artikel Terkait