Melamun atau Daydreaming sebenarnya memiliki banyak manfaat untuk kesejahteraan diri kita loh, misalnya pikiran kita akan lebih rileks dan terhindar dari ketegangan. Akan tetapi, jika dilakukan secara berlebihan malah akan berujung tidak sehat. Dalam psikologi, melamun yang tidak sehat dinamakan Maladaptive Daydreaming (MD).
Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Eli Somer, seorang profesor psikologi dari Universitas Haifa, Israel menyebutkan Maladaptive Daydreaming sebagai strategi untuk mengatasi stres dengan cara membentuk fantasi-fantasi yang dapat menghambat aktivitas atau fungsi manusia sehari-hari sehingga tidak jarang mereka dirugikan secara waktu. Selain itu, para MD-ers juga melaporkan sering merasakan perasaan tertekan dan malu yang kuat yang berasal dari kesulitan mereka dalam mengendalikan keinginan dan perilaku melamun mereka. Oleh karena itu, orang yang mengidap Maladaptive Daydreaming parah biasanya cenderung kurang perhatian dan susah fokus serta obsesif-kompulsif.
Namun, pengidap Maladaptive Daydreaming tidak bisa disamakan dengan skizofrenia yang merupakan salah satu tipe psikosis. Penderita Maladaptive Daydreaming sadar bahwa khayalannya tidak nyata sehingga dapat membedakan fakta dan mimpi. Sebaliknya, penderita skizofrenia tidak bisa membedakan realita dengan fantasi.
Ternyata, Maladaptive Daydreaming sama bahayanya dengan kecanduan internet lho. Pengidap Maladaptive Daydreaming maupun pecandu internet menjadikan dunia fantasi mereka sebagai “pelarian” untuk menghindari kesulitan dan melakukan hal-hal yang tidak dapat mereka lakukan di dunia nyata.
Apa Saja Penyebab Maladaptive Daydreaming?
- Ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi penolakan sosial
- Pelarian untuk melampiaskan ketegangan kehidupan
- Imajinasi yang intens
- Penyesalan karena melewatkan suatu peluang
Lalu, Bagaimana Melamun Yang Tidak Sehat Itu?
- Menghabiskan 56% waktu bangun tidur untuk melamun daripada beraktivitas
- Melibatkan plot yang rumit atau karakter fiksi dari tv, film, atau buku
- Terlalu hanyut dalam fantasi hingga mengabaikan apa yang terjadi di dunia nyata dan membuat gerakan-gerakan seperti menggoyangkan badan, mondar-mandir, dan berputar saat ia melamun.
- Memiliki gejala “craving” atau kehausan seperti yang dialami penderita kecanduan hingga sulit untuk mengendalikan melamun
- Menghambat aktivitas akademik atau pekerjaan dan hubungan dengan orang lain.
Untuk lebih jelasnya, perbedaan melamun yang sehat versus melamun yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

JIka kamu sudah mengalami banyak gejala seperti di atas, maka ada 3 hal yang dapat kamu lakukan untuk setidaknya mengurangi gejala ataupun mengurangi intensitas terjadinya Maladaptive Daydreaming?
1. Mengurangi rasa lelah
Kamu wajib memastikan untuk memiliki waktu tidur malam yang cukup dan berkualitas. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah waktu tidur malam atau bahkan mengonsumsi kafein di siang hari agar terjaga dari tidur siang.
2. Mencatat pola
Kamu bisa menuliskan di buku harian mengenai penyebab Maladaptive Daydreaming yang kamu rasakan, misalnya setelah menonton film drama korea. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menghindarinya di waktu mendatang.
3. Memberi tahu orang lain
Jika kamu sudah mengetahui gejala dan pola kemunculan Maladaptive Daydreaming ini, tidak ada salahnya memberi tahu orang lain agar suatu ketika tanda-tanda itu terlihat, orang lain dilingkungan kamu bisa membangunkan kamu dari khayalan tersebut
Jika, 3 upaya tersebut masih belum terlalu berdampak pada pengurangan gejala Maladaptive Daydreaming. Maka, kamu bisa mengikuti sesi terapi bersama psikolog. Umumnya, ada 3 terapi yang dapat diberikan kepada pengidap Maladaptive Daydreaming.
3 Terapi untuk Pengidap Maladaptive Daydreaming
1. Wawancara Motivasi
Wawancara motivasi dilakukan dengan tujuan untuk melepaskan pengidap dari kebiasaan Maladaptive Daydreaming. Secara praktek, wawancara motivasi dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka, mendengarkan secara reflektif dan memberikan penjelasan yang membantu individu mengungkapkan keprihatinan mereka tentang perubahan serta mampu mengembangkan keterampilan perilaku baru.
Wawancara motivasi akan dapat membuat pengidap menjadi lebih sadar tentang komplikasi yang akan muncul jika kebiasaan tersebut tetap dipertahankan, konsekuensi serta bahaya yang akan diterima. Selain itu, wawancara motivasi dapat membantu pengidap untuk memvisualisasikan masa depan yang lebih baik, merenungkan apa yang mungkin diperoleh dari perubahan yang terjadi, dan menjadi semakin termotivasi untuk berkomitmen pada tugas-tugas yang akan dilakukan untuk mengendalikan Maladaptive Daydreaming.
2. Cognitive Behaviour Therapy
Intervensi Cognitive Behaviour Therapy biasanya dilakukan dengan tujuan mengajarkan pengidap untuk menghargai diri sendiri, manajemen waktu dan tugas, melatih keterampilan relaksasi dan fokus, pemecahan masalah dan merencanakan kegiatan lain yang lebih produktif yang dapat dilakukan, misalnya merencanakan tugas akademis ataupun daftar pekerjaan.
3. Latihan Mindfullness
Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan fokus dan perhatian serta mengurangi pikiran yang liar. Selain itu, latihan mindfulness secara rutin juga sering dikaitkan dengan pengurangan penggunaan alkohol, marijuana, dan kokain.
Baca Juga: Kapan Harus Ke Psikolog?
Nah kira-kira lamunan kalian termasuk lamunan yang sehat atau yang tidak sehat nih, capster? Semoga informasi diatas dapat membantu kalian mencari tahu sehat atau tidaknya lamunan kalian ya!
Sumber :
Blouin-Hudon, E, C. (2016). The Daydreamer: Exploring the personality underpinnings of daydreaming styles and their implications for well-being. Consciousness and Cognition, 44 (2016), 114-129
Pietkiewicz, I.J., Nęcki, S., Baņbura, A., & Tomalski, R. (2018). Maladaptive daydreaming as a new form of behavioral addiction. Journal of behavioral addictions, 7(3), 838-843
Somer E. (2002). Maladaptive daydreaming: A qualitative inquiry. Journal of Contemporary Psychotherapy, 32(2-3), 197-212
Somer E. (2018). Maladaptive daydreaming: Ontological analysis, treatment rationale; a pilot case report. Frontiers in the Psychothrapy of Trauma and Dissociation, 1(2), 1-22.
https://www.doczo.com/blog/maladaptive-daydreaming/