“Duh dari kemarin kok, aku hanya ingin tidur terus-menerus, ya? Jangan-jangan aku depresi, nih!” “Kok, moodku dari kemarin naik turun terus ya? Jangan-jangan aku menderita bipolar, nih!” Coba ingat-ingat kembali, apakah kamu pernah berpikir seperti itu? Jika pernah, maka kamu perlu waspada. Karena, apa yang kamu lakukan tersebut dinamakan self diagnosis. Kamu pasti bertanya-tanya, apa itu self diagnosis? Lalu, seberapa besar dampak yang ditimbulkan untuk diri sendiri? Yuk, mari kita bahas satu-persatu!
Di era internet seperti sekarang ini. Kamu dapat memperoleh berbagai informasi dengan mudah, kapan pun dan di mana pun. Termasuk informasi-informasi tentang kesehatan. Ketika kamu mengalami suatu gejala-gejala yang mempengaruhi kesehatanmu, kamu pasti akan tergoda untuk mencari tahu penyebab dan cara mengobatinya melalui internet. Alih-alih menanyakan kepada yang ahli seperti dokter, psikolog, dan psikiater. Informasi dari internet yang belum tentu kredibel tersebut, membuat kamu melakukan self diagnosis. Melakukan self diagnosis justru hanya semakin memperburuk kesehatan kamu, baik kesehatan fisik maupun mental.

Apa Itu Self Diagnosis?
Self diagnosis merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mendiagnosis dirinya, hanya berdasarkan pada informasi yang dibaca atau didapatkan, bukan berdasarkan keterangan resmi dari seorang profesional. Informasi yang didapatkan pun tidak kredibel, misalnya dari internet, teman, keluarga, atau tetangga.
Self diagnosis bisa dimulai dari labeling dan stigma yang muncul pada diri sendiri. Labeling sangat berpengaruh terhadap munculnya konsep diri. Konsep diri dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diketahui dan dipikirkan oleh diri sendiri. Ketika kamu mulai melakukan self diagnosis, pada dasarnya kamu telah berasumsi bahwa kamu mengetahui seluk-beluk mengenai diagnosismu tersebut. Hal ini akan sangat berbahaya.
Faktor tersebut yang menjadi dasar agar kamu meminta bantuan seorang profesional seperti psikolog atau psikiater. Dengan mengetahui riwayat gejala, keluhan, dan berbagai faktor lain yang telah kamu alami, mereka dapat membuat diagnosis yang tepat.
Baca Juga: Apa Itu Toxic Positivity? Bagaimana Dampaknya Bagi Kesehatan Mental?

Dampak Self Diagnosis
Ketika kamu melakukan self diagnosis, dan salah ketika melakukan diagnosa, maka akan timbul beberapa dampak yang berbahaya bagi diri sendiri, diantaranya yakni:
1. Kesalahan Diagnosis
Menetapkan sebuah diagnosa bukanlah suatu hal yang mudah. Sebuah diagnosa terlahir dari analisa yang panjang atas seluruh gejala, riwayat kesehatan sebelumnya, faktor lingkungan, dan berbagai faktor penunjang lainnya. Sebuah kesalahan diagnosa menjadi hal utama yang paling berbahaya dari kegiatan self diagnosis.
Hal tersebut menjadi berbahaya karena beberapa gangguan kesehatan bisa memiliki gejala yang sama. Baik kesehatan fisik maupun mental. Contohnya adalah kondisi cepat marah dan agresif. Hal tersebut bisa menjadi gejala dari gangguan bipolar atau siklotimik. Oleh karena itu, diagnosis dari ahlinya seperti dokter, psikolog atau psikiater sangat diperlukan. Agar dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.
2. Kesalahan Penanganan
Jika dari proses diagnosis yang ditetapkan saja sudah salah. Tentunya hal tersebut akan berdampak pada penanganan yang dilakukan. Seperti membeli suatu obat tanpa resep dari seorang dokter atau psikiater. Bukan manfaat dan kesembuhan yang didapat dari obat tersebut. Justru mengakibatkan kondisi kesehatanmu semakin memburuk.
3. Labelling Terhadap Diri Sendiri
Ketika seseorang telah melakukan self diagnosis, tanpa sadar mereka akan turut melabeli diri mereka. Misalnya ketika mood kamu sedang mengalami naik turun, tanpa sadar kamu akan melabeli diri kamu sebagai penderita bipolar. Karena berdasarkan informasi yang kamu dapatkan dari internet, memberikan informasi seperti itu. Hal ini tentu berbahaya, karena bisa saja label yang telah kamu sematkan itu salah dan justru akan memperparah kondisi kamu saat ini.
4. Memunculkan Sikap Tidak Peduli
Dampak buruk lainnya adalah munculnya sikap tidak peduli dalam diri. Hal ini terjadi, karena kamu menganggap gejala yang kamu alami ringan. Sehingga memunculkan sikap ketidakpedulianmu terhadap kondisi kamu saat ini. Hingga membuatmu enggan berkonsultasi dan mengecek ke professional.
5. Memicu Gangguan Kesehatan Yang Lebih Parah
Hal ini merupakan efek lanjutan dari kesalahan mendiagnosis yang kamu lakukan sehingga membuat kamu tidak mendapat penanganan yang tepat. Terkadang kamu mendiagnosis bahwa gejala yang kamu alami adalah sebuah penyakit psikis. Akan tetapi, perlu kamu sadari bahwa gejala psikis yang kamu alami bisa jadi merupakan masalah kesehatan fisik. Contohnya, ketika kamu mendiagnosis diri kamu menderita gangguan panik, mungkin saja kamu melewatkan sebuah diagnosis bahwa hal tersebut berkaitan dengan kesehatan fisikmu.
Oleh karena itu, daripada kamu melakukan self diagnosis. Lebih baik kamu bercerita dan berkonsultasi mengenai permasalahan psikologis yang kamu alami lewat Teman Bercerita Bareng Psikolog. Di sini kamu akan melakukan sesi konsultasi tentang masalahmu dengan ditangani oleh para Psikolog profesional Catatan Psikologi. Kamu juga akan mendapat hasil diagnosis yang akurat dari ahlinya. Jadi, tidak perlu melakukan self diagnosis yang pada akhirnya hanya akan memperburuk kondisi kamu.
Penulis: Muhammad Amin Alimuddin
Referensi:
Pillay, S. Psychology Today (2010). The Dangers of Self Diagnosis
Tahira Nurul Azizah & Nunung Nurwati, (2021) Dampak Perilaku “Self-Diagnosis” Pada Kesehatan Mental Remaja, Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ