Toxic positivity, tentu kamu sering mendengar kata-kata tersebut, baik melalui media sosial maupun percakapan sehari-hari. Lalu sebenarnya, apa sih toxic positivity itu? Bagaimana fenomena ini bisa terjadi di sekitar kita? Lalu, bagaimana suatu hal yang positif memberikan sebuah dampak buruk bagi kesehatan mental kita?
Siapa sih di dunia ini, yang hidupnya tidak pernah memiliki masalah? Tentu, di antara kita pasti pernah memiliki sebuah masalah baik masalah ringan maupun masalah berat. Hal tersebut sangatlah wajar terjadi pada setiap fase kehidupan manusia. Akan tetapi, dikala mendapatkan masalah atau mengalami kegagalan, pasti ada perasaan yang mengganjal di dalam dirimu. Berbagai macam cara kamu lakukan untuk menghilangkan hal tersebut, sebagai sebuah bentuk pertahanan diri yang kamu lakukan. Salah satunya dengan tetap berpikir positif dan bersikap optimis atas apa yang telah terjadi.
Sikap optimis dan tetap berpikir positif memang merupakan hal yang baik. Namun, jika kamu memaksakan hal tersebut, maka yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih masalah kamu segera terselesaikan, justru membuat kamu mendapatkan masalah yang baru. Sikap penyangkalan atas emosi negatif yang sedang kamu alami dengan menggunakan sikap positif dikenal dengan istilah toxic positivity.

Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity dapat dikatakan sebuah keadaan di mana seseorang meyakini atau berprasangka bahwa tidak peduli seberapa buruk keadaan, sangat penting untuk selalu fokus agar tetap bahagia, bersikap positif, dan optimis. Sikap seperti ini, justru membuat kamu secara tidak langsung menyangkal emosi-emosi negatif yang ada seperti sedih, marah, kecewa maupun frustrasi. Padahal, emosi negatif juga penting untuk kamu rasakan dan ekspresikan. Penyangkalan emosi negatif ini bisa terjadi mulai dari pengabaian terhadap emosi yang terjadi atau ucapan penyemangat yang mengandung toxic positivity dari orang lain. Meskipun ucapan penyemangat toxic positivity juga dapat muncul dari diri kita sendiri.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari berpikiran positif. Bahkan hal ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan mental kita. Namun, berpikiran positif secara berlebihan akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Sebagai makhluk yang dianugerahi pikiran dan perasaan, kamu pantas untuk mengekspresikan segala emosi yang dirasakan. Sayangnya manusia kerap kali memaksakan untuk berpikiran positif, ketika emosinya sedang tidak baik-baik saja. Hal inilah yang menimbulkan toxic positivity di dalam dirimu. Toxic positivity hanya terjadi saat kamu ingin tetap terlihat kuat dengan mengabaikan perasaanmu yang sebenarnya, mengubur dalam-dalam emosi negatif, dan merasa bersalah ketika meluapkan emosi-emosi negatif yang kamu rasakan.
Beberapa contoh toxic positivity, yakni:
- Memberitahu orang tua yang anaknya telah meninggal untuk tetap bahagia, karena mereka beruntung dapat memiliki anak sebaik itu.
- Ketika kamu mengalami kegagalan, seseorang memberitahumu bahwa “Semua hal yang telah terjadi, pasti memiliki pelajaran di dalamnya”. Orang yang memberitahukan hal tersebut, menganggap hal itu dapat menghibur, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
- Ketika kamu mengalami kehilangan, seseorang memaksamu untuk fokus pada aspek positif dari kehilangan tersebut.
- Memberitahu seseorang untuk melupakan kesedihan atau penderitaan mereka dan fokus pada hal-hal baik dalam hidupnya.

Bagaimana Dampak Toxic Positivity bagi Kesehatan Mental?
Menjadi seorang manusia, sudah hal lumrah ketika merasakan perasaan marah, kecewa, kehilangan semangat, dan sedih. Berpura-pura kuat ketika mengalami hal tersebut, hanya membuat kamu mengalami toxic positivity, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk bagi kesehatan mentalmu.
Lalu, apa saja sih dampak dari toxic positivity bagi kesehatan mental kita?
1. Toxic positivity Membuat Kamu Menolak Emosi Negatif
Memaksa dirimu untuk tetap berpikir positif ketika sedang tidak baik-baik saja, hanya akan membuatmu semakin menderita. Rasa sedih, marah, dendam, kesepian, putus asa, malu, dan berbagai emosi negatif lainnya, semakin kamu tahan dan pendam dalam-dalam, dan kamu gantikan dengan kebahagiaan palsu dan rasa optimis yang tidak sesuai dengan kondisi yang sedang kamu alami sebenarnya, justru tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Semua hal itu kamu lakukan, agar kamu tetap terlihat tegar dan kuat di hadapan orang lain. Hal ini juga terjadi karena kamu malu dan takut dianggap lemah karena harus mengekspresikan emosi negatif tersebut. Ketika kamu sudah melakukan hal tersebut, tentu akan membuatmu semakin kesulitan dalam memvalidasi perasaan yang terjadi pada dirimu sendiri.
2. Toxic Positivity Membuat Kamu Terisolasi
Pura-pura menjadi kuat di setiap situasi dan kondisi, justru membuatmu menjauh dari fitrah manusia pada umumnya. Ketika kamu melakukan ini, maka hanya akan membuatmu kesulitan. Kamu semakin jauh dalam mengenal dirimu sendiri, hingga akhirnya membuatmu kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan menjadikanmu terisolasi dari lingkungan sekitarmu.
Ketika kamu sudah merasa terisolasi atau malu dengan perasaanmu saat ini, maka akan menghalangi dirimu dalam mencari bantuan. Padahal, kamu bisa meminta bantuan orang-orang terdekatmu sebagai teman bercerita, di kala kamu sedang tidak baik-baik saja.
3. Merasa Memiliki Harga Diri yang Rendah
Setiap orang tentu memiliki emosi negatif. Keberadaan toxic positivity justru mendorongmu untuk mengabaikan emosi negatif yang sedang dirasakan. Meskipun menahannya dapat membuatmu tampak terlihat lebih tegar dan kuat. Namun, ketika sudah tidak mampu merasa positif, maka akan membuatmu merasa gagal dan memiliki harga diri yang rendah.
Baca Juga: Apa Itu Overthinking? Yuk Kenali Ciri dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Cara Menghindari Toxic Positivity?
Berpikir positif bukanlah suatu hal yang buruk, asal diimbangi dengan respons emosional yang tepat terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Ketika pikiran positif sudah terlalu mendominasi, dan membuat kita mengabaikan emosi negatif yang terjadi. Pada saat itulah kita harus sadar dan belajar agar lebih percaya diri dalam mengekspresikan berbagai emosi, termasuk emosi negatif. Berikut beberapa strategi yang dapat Catatan Psikologi berikan untuk menghindari toxic positivity, di antaranya yaitu:
1. Belajar Memvalidasi Emosi Yang Terjadi
Emosi negatif yang datang dan kamu rasakan bukanlah sebuah hal yang perlu kamu simpan atau sangkal. Oleh karena itu, kamu perlu belajar untuk menerima dan menghargai setiap emosi yang kamu rasakan, termasuk emosi yang dirasakan orang lain.
Berlatihlah untuk menjadi lebih terbuka dengan menceritakan keluh kesahmu kepada orang yang kamu percaya atau profesional seperti psikolog atau psikiater. Selain itu, cobalah untuk mendengarkan dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain, menghargai emosi mereka, dan memberikan dukungan agar orang lain tidak meniadakan emosi negatif yang sedang mereka rasakan. Dengan itu, maka akan membantumu lebih mengenal emosi dirimu dan orang lain.
2. Melakukan Journaling
Untuk memulai menjadi seorang yang terbuka dan mudah mengungkapkan emosi yang terjadi kepada orang lain, tentu membutuhkan sebuah proses. Oleh karena itu, kamu dapat mulai belajar mengenali emosi yang terjadi dengan menuliskan berbagai perasaan yang kamu rasakan ke dalam buku harian. Dengan mencatat bagaimana perasaan tersebut hadir, dapat membantumu menjadi lebih nyaman dalam memvalidasi emosi positif dan negatif dalam dunia nyata.
3. Mengurangi Bermain Sosial Media
Terlalu sering bermain sosial media, tanpa disadari dapat membuatmu semakin stres bahkan memperparah toxic positivity yang kamu alami. Oleh karena itu, mulailah kelola media sosialmu dengan menyingkirkan orang-orang toxic dan waktu penggunaannya. Waktu yang biasanya kamu habiskan untuk scrolling media sosialmu, bisa kamu gunakan untuk hal-hal yang produktif lainnya, seperti membaca buku, menghabiskan waktu bersama keluarga, belajar kemampuan baru, atau aktivitas lainnya yang membuatmu merasa bahagia.
Perlu disadari, saat kamu merasakan perasaan sedih, kecewa, marah, tidak akan membuatmu menjadi manusia lemah. Tidak perlu menyangkal kesedihan dan berpura-pura kuat dan tegar, karena perasaan senang dan sedih yang silih datang berganti, akan menjadi bumbu dalam kehidupanmu. Oleh karena itu, jika kamu terjebak dalam toxic positivity hingga merusak kualitas hidupmu. Jangan ragu untuk bercerita serta berkonsultasi dengan profesional.
Penulis: Muhammad Amin Alimuddin
Gaba, S. Psychology Today (2021). Toxic Positivity: How It Relates to Unhealthy Relationships.
Travers, Mark. Why “Toxic Positivity” Is A Dangerous Idea.
Villines, Z. Medical News Today (2021). What to Know about Toxic Positivity.
Mager, D. Psychology Today (2020). There’s Nothing Positive about Toxic Positivity.